aku mencintaimu seperti hujan; memilih jatuh untuk membersihkan kecemasan langit.
jika cinta harus menulis lagu, ia pasti akan meminjam bunyi darimu dan sunyi dariku.
engkau membuat aku mampu menyentuh langit dengan seluruh keterbatasanku.
seringkali aku tetap merasa bahagia, meskipun aku keliru. misalnya ketika aku mengatakan: kau ada di dekatku.
seluruh kota di mana kau tak ada di atasnya adalah kota mati.
di kaca jendela yang tertutup debu tebal aku menulis namamu. dari huruf-hurufnya aku melihat langit alangkah biru.
cintaku jatuh ke dadamu bagai gelas membentur lantai. kini aku berusaha mengembalikan pecahan-pecahannya jadi gelas.
aku adalah lilin yang engkau tiup nyalanya di kue ulang tahun terakhirmu.
setiap tetes hujan adalah doa, katamu. kau tidak tahu seluruh awan di langit berasal dari dadaku.
senyummu terperangkap di mataku sebagai kenangan. barangkali itulah yang menghangatkan airmataku.
aku membentuk debu-debu ini menjadi tubuhku kembali. untukmu.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar